TAFSIR SURAT AL MAIDAH AYAT 15-26

By | 04/09/2015

Tafsir Al Qur’an Surat Al Maidah Ayat Ke: 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, Dan 26.
Merangkan tentang Rasul yang diutus kepada Ahli Kitab, mengeluarkan umat dari kegelapan menuju cahaya, kafirnya orang yang menganggap bahwa Nabi Isa itu adalah Allah, bantahan Allah terhadap kaum Yahudi dan Nasrani yang merasa dirinya bersih dengan mengatakan, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya”.
Lalu menceritakan tentang kisah Bani Israil bersama Nabi Musa, perintah kepada kaum Yahudi (yang beriman dan taat kepada Allah) agar masuk ke tanah suci/palestina, fasiknya kaum Yahudi karena tidak patuh kepada Nabi Musa hingga akhirnya Allah melarang untuknya negeri tersebut selama 40 tahun.

Ayat 15-19: Ajakan kepada Ahli Kitab agar mengikuti Al Qur’an dan risalah Islam serta meninggalkan keadaan mereka selama ini berupa kesesatan, kekafiran dan sangkaan-sangkaan

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (١٥) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (١٦) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٧) وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (١٨) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٩

Terjemah Surat Al Madiah Ayat 15-19

15. Wahai Ahli Kitab! Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari isi kitab[1] yang kamu sembunyikan[2], dan banyak (pula yang) dibiarkannya[3]. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menjelaskan[4],

16. Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan[5], dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya[6], dan menunjukkan ke jalan yang lurus.

17. Sungguh, telah kafir orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al Masih putera Maryam.”[7] Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam beserta ibunya dan seluruh manusia yang berada di bumi?”[8] Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya[9]. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki[10]. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

18. Orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.”[11] Katakanlah, “Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?[12] (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan[13]. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Dan milik Allah seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Kepada Allah-lah semua akan kembali.”

19.[14] Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepada kamu, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul[15] agar kamu tidak mengatakan[16], “Tidak ada yang datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan[17].” Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu[18].

Ayat 20-26: Kisah Bani Israil bersama Nabi Musa ‘alaihis salam, keengganan Bani Israil menaati perintah Nabi Musa ‘alaihis salam memasuki Palestina dan akibatnya, yaitu tersesatnya Bani Israil di gurun selama empat puluh tahun

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ (٢٠) يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (٢١) قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ (٢٢) قَالَ رَجُلانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (٢٣) قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَا هُنَا (٢٤) قَالَ رَبِّ إِنِّي لا أَمْلِكُ إِلا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (٢٥) قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الأرْضِ فَلا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (٢٦)

Terjemah Surat Al Madiah Ayat 20-26

20.[19] Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu[20], dan menjadikan kamu sebagai orang-orang merdeka[21], dan memberikan kepada kamu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat yang lain[22].”

21. Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu[23], dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang-orang yang rugi[24].

22. Mereka berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, niscaya kami akan masuk.”[25]

23. Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang takut (kepada Allah)[26], yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang[27], dan bertawakkallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman[28].”

24. Mereka berkata, “Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya, selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja[29].”

25. Musa berkata, “Ya Tuhanku, aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku[30]. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu[31].”

26. Allah berfirman, “(Jika demikian), maka negeri itu terlarang bagi mereka selama empat puluh tahun[32], (selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati[33] (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu[34].”


[1] Taurat dan Injil.

[2] Seperti ayat tentang rajam dan lainnya.

[3] Jika tidak ada maslahatnya selain membuka aibmu atau tidak sejalan dengan hikmah-Nya.

[4] Cahaya di sini maksudnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kitab, maksudnya adalah Al Quran. Adapula yang mengartikan “cahaya” di sini dengan Al Qur’an, di mana kegelapan kebodohan dan kesesatan dapat diterangi olehnya. Sedangkan maksud kitab yang menjelaskan adalah bahwa kitab Al Qur’an menerangkan segala yang dibutuhkan manusia tentang perkara agama maupun perkara dunia, seperti pengetahuan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat dan perbuatan-Nya, demikian juga pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at-Nya dan hukum-hukum jazaa’i (pembalasan terhadap amal).

[5] Berupa mengetahui yang benar dan mengamalkannya, di mana hal itu dapat membawanya ke Darussalam (surga).

[6] Allah mengeluarkan mereka dari gelapnya kekafiran kepada cahaya iman, dari gelapnya kebid’ahan kepada cahaya sunnah, dari gelapnya kemaksiatan kepada cahaya taat, dari gelapnya kebodohan kepada cahaya pengetahuan dan dari gelapnya kelalaian kepada cahaya dzikr.

[7] Perkataan ini diucapkan oleh salah satu sekte Nasrani, yaitu sekte Ya’qubiyyah. Alasan mereka adalah karena Nabi Isa ‘alaihis salam lahir tanpa bapak, padahal ada yang lebih aneh lagi, yaitu Hawa’ yang diciptakan tanpa ibu, dan Adam diciptakan tanpa bapak dan ibu. Hal ini menunjukkan bahwa ucapan mereka ini hanya didasari hawa nafsu tanpa bukti dan dalil sama sekali.

[8] Kalau seandainya Al Masih adalah tuhan, tentu dia mampu menghalanginya.

[9] Semua yang ada di langit dan di bumi milik Allah dan diatur-Nya, oleh karenanya apakah layak milik-Nya sekaligus sebagai hamba-Nya yang fakir menjadi tuhan yang disembah.

[10] Oleh karena itu, tidaklah aneh jika Al Masih Isa putera Maryam diciptakan tanpa bapak, karena Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Jika Dia menghendaki, Dia menciptakan manusia dari laki-laki dan wanita seperti halnya manusia semuanya, dan jika Dia menghendaki, Dia ciptakan seseorang dari laki-laki tanpa wanita seperti halnya Hawa’, dan jika Dia menghendaki, Dia ciptakan seseorang dari wanita tanpa laki-laki seperti Isa, dan jika Dia menghendaki, Dia ciptakan seseorang tanpa laki-laki dan wanita seperti Adam ‘alaihis salam.

[11] Orang-orang Yahudi dan Nasrani menganggap bersih diri mereka dengan mengatakan, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya“, Maha Suci Allah dari anggapan tersebut. Anak menurut bahasa mereka adalah kekasih, bukan anak dalam arti anak yang sesungguhnya, karena hal itu bukanlah madzhab mereka, kecuali madzhab mereka dalam hal Al Masih. Pada ayat di atas, Allah membantah anggapan tersebut.

[12] Yakni kalau kamu memang kekasih-kekasih-Nya, tentu Dia tidak akan menyiksamu.

[13] Berlaku kepadamu hukum-hukum adil dan ihsan.

[14] Dalam ayat ini, Allah mengajak Ahli Kitab untuk beriman kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersyukur kepada Allah yang telah mengutus Beliau ketika terjadi kekosongan rasul, di mana mereka sedang membutuhkan kedatangan rasul.

[15] Jarak terputusnya rasul antara Nabi Isa ‘alaihis salam dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kira-kira 569 tahun.

[16] Ketika kamu diazab.

[17] Beliau datang dengan memberi kabar gembira berupa pahala baik segera atau nanti, memberitahukan amalan yang mendatangkan pahala itu dan sifat orang-orang yang mengamalkannya. Demikian juga memberi peringatan dengan azab atau hukuman baik segera atau nanti, memberitahukan amalan yang mendatangkan azab itu serta sifat orang-orang yang melakukannya.

[18] Di antaranya dengan menyiksa kamu jika kamu tidak mengikuti rasul yang diutus-Nya.

[19] Allah memberi nikmat kepada Nabi Musa dan kaumnya (Bani Israil) dengan menyelamatkan mereka dari Fir’aun dan tentaranya. Mereka kemudian pergi menuju tanah air mereka dan tempat tinggal mereka, yaitu Baitul Maqdis dan sekitarnya. Saat mereka hendak sampai ke Baitul Maqdis, di sana terdapat musuh mereka, maka pada ayat di atas, Nabi Musa ‘alaihis salam menasehati mereka dan mengingatkan mereka nikmat Allah agar mereka mau berjihad, di mana Allah sebelumnya telah mewajibkan mereka berjihad melawan musuh.

[20] Untuk menjaga keadaan mereka, agar mereka tetap di atas hidayah dan tidak jatuh ke dalam kebinasaan. Nabi-nabi tersebut memotivasi mereka agar mereka menempuh jalan yang membahagiakan mereka di dunia dan akhirat serta mengajarkan mereka ilmu yang sebelumnya tidak mereka ketahui.

[21] Sebelumnya mereka di bawah penindasan Fir’aun, kemudian Allah menyelamatkan mereka sehingga mereka yang memegang perkara diri mereka dan mampu menjalankan agama mereka.

[22] Seperti diberikan Manna dan Salwa. Dan mereka di zaman itu merupakan umat pilihan Allah dan umat paling utama di antara sekian umat.

[23] Maksudnya, tanah Palestina itu ditentukan Allah bagi kaum Yahudi selama mereka beriman dan taat kepada Allah.

[24] Dengan tidak mendapatkan kemenangan terhadap musuh dan tidak dapat menaklukkan negeri sendiri, dan di akhirat tidak memperoleh pahala bahkan berhak memperoleh hukuman karena maksiatnya.

[25] Kata-kata ini keluar dari sifat pengecut dan lemahnya keyakinan. Jika mereka berpikir matang, tentu mereka akan mengetahui bahwa mereka semua berasal dari keturunan Adam, orang yang kuat adalah orang yang diberikan kekuatan oleh Allah, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan tentu mereka akan mengetahui bahwa mereka akan menang, karena Allah telah menjanjikan kemenangan.

[26] Ada yang mengatakan bahwa dua orang itu adalah Yusya’ dan Kalib yang tergolong pimpinan kaumnya, di mana Nabi Musa ‘alaihis salam mengutus keduanya untuk memeriksa kaum yang kuat dan kejam itu. Keduanya menyembunyikan keadaan kaum tersebut selain kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, berbeda dengan para pemimpin yang lain, mereka memberitahukan keadaan itu kepada orang-orang yang berada di bawahnya sehingga mereka ketakutan.

[27] Keduanya mengatakan seperti itu karena yakin dengan pertolongan Allah dan bahwa Dia akan memenuhi janji-Nya.

[28] Tawakkal kepada Allah merupakan persiapan yang paling kuat, memudahkan urusan dan memenangkan mereka ketika melawan musuh.

[29] Sungguh keji sekali perkataan yang ditujukan kepada nabi mereka ini, berbeda dengan para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bermusyawarah untuk berperang di Badar, mereka berkata kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, jika engkau mengarungi laut ini, niscaya kami akan mengarungi bersamamu, dan jika engkau mengajak kami ke Barkulghimad (wilayah di dekat Mekah kira-kira menempuh lima hari untuk menuju ke sana dari pinggir laut), niscaya tidak ada seorang pun meninggalkanmu.” Kami tidak akan berkata-kata seperti yang diucapkan kaum Musa kepada Musa, “Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja” akan tetapi (kami mengatakan), “Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, kami pun ikut berperang bersamamu, baik di depanmu atau di belakangmu, di kananmu atau di kirimu.”

[30] Yakni kami tidak sanggup memerangi mereka hanya berdua dan kami tidak mampu memaksa mereka (umatku).

[31] Yakni “Berikanlah keputusan antara kami dengan mereka, dengan menurunkan hukuman sesuai kebijaksanaan-Mu”. Hal ini menunjukkan bahwa perkataan dan sikap mereka termasuk dosa besar yang menjadikan mereka dihukumi sebagai orang-orang fasik.

[32] Hal ini termasuk hukuman duniawi, bisa jadi Allah menghapuskan kesalahan mereka dengan hukuman itu dan menghindarkan hukuman yang lebih besar dari mereka. Dalam ayat ini terdapat dalil, bahwa hukuman (di dunia) terhadap dosa bisa dengan menghilangkan nikmat yang ada atau untuk menghindarkan hukuman yang lebih besar lagi.

[33] Karena Allah mengetahui, bahwa hamba dan Rasul-Nya Musa ‘alaihis salam sangat sayang kepada semua manusia, khususnya umatnya, dan karena rasa sayang tersebut menjadikan Beliau kasihan kepada umatnya terkena hukuman itu atau bahkan ada keinginan untuk dihilangkan hukuman itu, maka Allah menyuruh agar tidak bersedih terhadap mereka, karena mereka telah berbuat fasik sehingga layak dihukum, bukan berarti menzalimi mereka.

[34] Disebutkan dalam riwayat, bahwa mereka (Bani Israil) tersebut mengadakan perjalanan di muka bumi dengan bersusah payah. Saat tiba di pagi hari, mereka berada di tempat mereka mengawali perjalanan, demikian juga jika mengadakan perjalanan di siang hari, sehingga mereka binasa semuanya kecuali orang yang usianya belum mencapai dua puluh tahun. Ada yang mengatakan, bahwa jumlah mereka 600.000 orang, dan dalam keadaan seperti itu Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Harun wafat, mereka memperoleh rahmat, sedangkan bagi yang lain sebagai hukuman. Menjelang wafatnya, Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah agar didekatkan ke tanah suci tersebut sejauh lemparan batu, maka Allah mendekatkannya sebagaimana disebutkan dalam hadits. Kemudian Yusya’ diangkat menjadi nabi setelah 40 tahun mereka mengembara, dan selanjutnya Beliau memerintahkan kaumnya memerangi orang-orang yang kuat dan kejam itu, ia pun berangkat dengan sisa orang yang ada dan memerangi mereka pada hari Jum’at. Ketika itu, matahari ditahan sesaat untuk mereka sampai mereka selesai berperang. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya,

إِنَّ الشَّمْسَ لَمْ تُحْبَسْ عَلَى بَشَرٍ إِلاَّ ِليُوْشَعَ لَيَالِي سَارَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ

Sesungguhnya matahari tidaklah ditahan bagi manusia kecuali terhadap Yusya’ pada malam hari saat ia berangkat perang ke Baitulmaqdis.”

Mungkin hikmah dilarangnya Baitulmaqdis bagi mereka selama 40 tahun adalah agar orang-orang yang mengucapkan kata-kata ini –yang menunjukkan keadaan hatinya yang tidak sabar- wafat, sehingga digantikan oleh generasi yang baru yang siap mengalahkan musuh, tidak suka diperbudak serta tidak suka dihinakan dan siap berjihad.

Tags: Tafsir Lengkap Al Quran Online Indonesia, Surat Al Maidah, Terjemahan Dan Arti Ayat Al Quran Digital, Penjelasan dan Keterangan, Asbabun Nuzul, Download Tafsir Al Quran, Footnote atau catatan kaki.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *